Aku Ingin Kau Bertanya Apa yang Ingin Aku Tanyakan Padamu

Tidak. Tidak sebab. Sungguh bukan sebab. Karena—kata ini hilang. Sejak kau pergi dari kepala, lalu hati. Sesekali.

Ini seperti padang pasir. Pekik gagak memantul di dinding-dinding batu. Mencari bangkai. Mencari nyawa. Mencari yang pernah hidup di dalam kepala, lalu di hati. Pekik yang dibalas dengan pekik yang sama. Tanya yang sama. Tak berjawab. Karena jawab hanya ada dari yang bernyawa. Bukan lagi kau bukan lagi aku. Tidak ada sisa untuk jawaban.

Mengapa semuanya harus tentang kau? Padahal kau bukan gagak. Tapi kau ingin aku menjadi mangsamu. Hidup-hidup. Hidup-hidup kau robek dadaku. Ini hati cuma satu, kau ambil juga. Tapi degupnya masih ada sampai sekarang. Jadi dulu kau ambil hati yang mana? Hati siapa? Ah, bukan ini yang ingin kutanyakan. Terlalu remeh. Kau tahu pasti soal hati. Mungkin.

Ke marilah. Lihat mataku. Tanyakan apa yang selalu ingin kutanyakan padamu. Ke marilah. Ambil mataku. Tanyakan pada matamu, apakah mereka berbuat hal yang sama: saling memecah ketika ada kau ada aku di dalam kepala, lalu hati sesekali.



.Jul11

Advertisement

2 responses to this post.

  1. Izin mampir membaca.

    Salam kenal, kakak :)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.