Tidak. Tidak sebab. Sungguh bukan sebab. Karena—kata ini hilang. Sejak kau pergi dari kepala, lalu hati. Sesekali.
Ini seperti padang pasir. Pekik gagak memantul di dinding-dinding batu. Mencari bangkai. Mencari nyawa. Mencari yang pernah hidup di dalam kepala, lalu di hati. Pekik yang dibalas dengan pekik yang sama. Tanya yang sama. Tak berjawab. Karena jawab hanya ada dari yang bernyawa. Bukan lagi kau bukan lagi aku. Tidak ada sisa untuk jawaban.
Mengapa semuanya harus tentang kau? Padahal kau bukan gagak. Tapi kau ingin aku menjadi mangsamu. Hidup-hidup. Hidup-hidup kau robek dadaku. Ini hati cuma satu, kau ambil juga. Tapi degupnya masih ada sampai sekarang. Jadi dulu kau ambil hati yang mana? Hati siapa? Ah, bukan ini yang ingin kutanyakan. Terlalu remeh. Kau tahu pasti soal hati. Mungkin.
Ke marilah. Lihat mataku. Tanyakan apa yang selalu ingin kutanyakan padamu. Ke marilah. Ambil mataku. Tanyakan pada matamu, apakah mereka berbuat hal yang sama: saling memecah ketika ada kau ada aku di dalam kepala, lalu hati sesekali.
.Jul11
23 Jul
Aku Ingin Kau Bertanya Apa yang Ingin Aku Tanyakan Padamu
Advertisement
Posted by naishakid on September 13, 2011 at 2:38 am
Izin mampir membaca.
Salam kenal, kakak
Posted by buluangsa on September 13, 2011 at 2:41 am
terimakasih, naisha