Tiga Sekat pada Lagu


Usai membeli kumpulan lagu baru, kau dengarkan ia
Dekat-dekat dengan dadamu


Intro
Intro baru saja lewat tapi
ketukan belum tertangkap
di dalam sana, seseorang
sedang mencari kunci yang tepat


Refrain
Sebuah refrain,
ada nada yang datang berulang
Seperti refrain,
ada ingin yang hendak berulang

Outro
Serupa outro yang tertulis
fade-away,
kehilangan pergi perlahan
seseorang mulai menghapal lirik
dari awal


sampul albumnya bisa kau abaikan.
judul pun bukan pengingat
. melodi abadi sendiri


.Okt09

Dzikir

Kupanggil namamu berulang kali sebagai dzikir
hingga habis nafas hingga lenyap suara sesak dada
mengharap kau menoleh sedikit saja melihatku
melihat wajahku
wajah yang malam berawan

Diri serupa seluruh alam malam qadar
menunduk bersujud bersimpuh meski
kau tak kulihat tak kulihat wajahmu menoleh melihat aku
pada mataku pada suaraku pada tanganku yang menggapai

Kau panggil namaku satu-satu
bulir-bulir tasbih melingkar berputar-putar
lepas berserakan lesap ke dalam tanah
dan kita saling berpandangan
berpegangan tangan

.Jul09

Bantal

Setiap malam aku rebahkan tubuhku di atas kasur,
juga kepalaku di atas bantal,
bantal yang memiliki banyak sekali peta,
peta yang diam-diam kubuat dengan mata,
tersembunyi di balik sarungnya yang jingga.

Entah ke mana peta itu menunjuk.
mungkin ia ingin aku tahu rahasia arti mimpi-mimpi,
atau dari peta itulah mimpiku berasal.

Suatu malam aku lepas sarungnya yang jingga.
aku masuk ke dalam bantal,
berjalan-jalan menelusuri peta,
yang semakin banyak dan semrawut alurnya.
aku sesat dan sesak
seperti liliput yang mencari jalan di labirin daun menjalar.

Sejak itu aku berharap
mataku tidak lagi pandai menggambar peta.

.Jul09

Sapu

Di musim ini daun-daun
memilih jatuh
beramai-ramai
mereka menumpuk
menyelimuti jalanjalan
yang dulu sering kita lalui
bertelanjang kaki

Di tanganku, sapu,
masih kupikirkan
untuk apa ia kugenggam

.Jul09

Istikharah


Benarkah alamat yang

ia bubuhkan?


.Jun09

Bibirmu Sesabit Bulan

Bibirmu sesabit bulan
sekumpulan bintik-bintik bintang
, sejauh itu tergantang

.Jul09

Suatu Sore, Janji-Temu yang Ragu

”Aku tahu tempat itu terlalu ramai, tapi makanannya lucu-lucu.”

”Tapi bukankah semestinya tak ada yang tahu kita bertemu?”

”Biarkan saja. Anggap mereka hanya iri bahwa kita bisa berdua tanpa malu-malu.”

”Ya, ya.. toh kita bukan selingkuh”.

(oh bukan?)

“Kalau pun ada yang mengira selingkuh, kita nikmati saja”

(hmm..)

.

Sore itu kita bertemu.

“Aku sudah putus dengannya”

”oh ya?”

”Ya. Aku juga tak menyangka dia memutuskan aku”

(owh?)

.

Mendadak pertemuan itu terasa tak sempurna

.

.

.Mei09

Rakaat yang Menghendak Terbilang

Kita bertemu pada

takbiratul ihram

malam itu langit

hitam muram

.

Punggung yang lengkung,

telah kita coba ratakan

: ada tarikan yang nyata

di kaki-kaki kita

.

Kau rapatkan keningmu

pada keningku

tapi bibir kita masih terlalu jauh

untuk saling menjangkau

, kurasa hidungku terlalu lekat

hingga tanah tercium

basah

.

Senyap sungguh tuma’ninah

ah, adakah sekali saja

kita saling memanggil

dalam diam?

.

Ini bukan tahiyat

yang kita singgahi

berkali-kali silam

kesaksianmu tergantang

di simpul yang lerai

.

Ada yang tak tertebak

menjelang salam

: apakah kanan dengan kiri

saling mengenal?

.

.

.April09

Gerimis yang Ingin

Ternyata seperti ini cara

kita menghadapi

musim:

.

hujan di luar berlari di atas

atap rumah.

di dalam, kita

menyembunyikan gerimis,

menghitungnya perlahan-lahan.

.

Ada tangan-tangan

mengulur ke luar jendela,

menampung segala musim,

menumpahkan isinya

ke halaman rumah kita

.

Kita punguti satu persatu

musim yang tumpah itu.

lalu gerimis,yang kita tulis

berlembar-lembar,

menjadi suara yang begitu ingin

kita dengar

.

.

Mar09

Catatan

Sebab pada akhirnya
hanya inlah yang kita miliki
kenangan,
catatan yang kita lupa
menjadikannya puisi,
sajak yang ingin dibaca
berbisik
agar kita ingat lebih
saat ia tanya
“engkau di mana”

Mar09