Setelah Membaca Afrizal Malna

: Inezdikara

Pintu apa pintu siapa
Matahari sibuk mencari suara
Jendela sudah kubakar
Wajahmu pasi
Seperti koran kemarin yang lupa dibaca

Tidak usah kau tanyakan lagi kapan
hujan akan datang, ibu
dia ada di dalam tas punggung yang
kubawa ke mana-mana*
Juga di buku yang menyala-nyala di
akhir pekan

pintu apa pintu siapa
matahari sudah membakar jendela
aku sibuk mencari suara ke dalam
genggaman tanganmu**



note:
[larik dalam tanda bintang (*) diambil dengan modifikasi sesuka penulis]
*Hujan dari Sebuah Dapur
*Rumah Kata, Ibau, mana Ceritamu


.Sept102011

9

Aku akan melepaskanmu. bukubuku yang terbuka itu, At Taubah, di dalamnya tidak ada kau. hanya ingin. hanya angan yang berhamburan. tanpa kau.
Aku akan menulismu, At Taubah, sebanyak bukubuku itu, maka bila kita bertemu nanti, kau mengenaliku



.Aug112011

Aku Ingin Kau Bertanya Apa yang Ingin Aku Tanyakan Padamu

Tidak. Tidak sebab. Sungguh bukan sebab. Karena—kata ini hilang. Sejak kau pergi dari kepala, lalu hati. Sesekali.

Ini seperti padang pasir. Pekik gagak memantul di dinding-dinding batu. Mencari bangkai. Mencari nyawa. Mencari yang pernah hidup di dalam kepala, lalu di hati. Pekik yang dibalas dengan pekik yang sama. Tanya yang sama. Tak berjawab. Karena jawab hanya ada dari yang bernyawa. Bukan lagi kau bukan lagi aku. Tidak ada sisa untuk jawaban.

Mengapa semuanya harus tentang kau? Padahal kau bukan gagak. Tapi kau ingin aku menjadi mangsamu. Hidup-hidup. Hidup-hidup kau robek dadaku. Ini hati cuma satu, kau ambil juga. Tapi degupnya masih ada sampai sekarang. Jadi dulu kau ambil hati yang mana? Hati siapa? Ah, bukan ini yang ingin kutanyakan. Terlalu remeh. Kau tahu pasti soal hati. Mungkin.

Ke marilah. Lihat mataku. Tanyakan apa yang selalu ingin kutanyakan padamu. Ke marilah. Ambil mataku. Tanyakan pada matamu, apakah mereka berbuat hal yang sama: saling memecah ketika ada kau ada aku di dalam kepala, lalu hati sesekali.



.Jul11

Hari


1/
Aku kira kau sebelas, karena mukamu yang memelas.
Tapi sepuluh bersaksi kau tigabelas. Angka naas

2/
Ini senin yang asin, tapi kau bilang
suka pada rabu yang ragu. Kamis itu
manis, kau tahu? tidak juga seperti
sabtu. dia itu menunggu dan
abuabu

3/
Kalau kau tiba, hari, ketuklah
minggu 4 kali saja, agar bulan
segera datang
ini rindu mendemam
halaman demi halaman

.Jul2011

Skenario

Percakapan kita
di musim kemarin
kertas kosong


Last season
too many scenarios
empty sheets


.Jun11

Yang Tertinggal Di Butir Pasir


1/
Langit putih biru
pohon rindang
bangku mengayun sendiri

2/
Senja tiba-tiba datang
burung-burung hilang
tak perlu ada lagi perdebatan

3/
Menulis di pasir
laut pasang
sebuah nama hilang

4/
Laut sangat luas
apa yang terlihat
punggung saling menatap

5/
Betapa laut memanggil-manggil
tubuhmu yang belum basah
dan matamu yang belum merah
memang selalu harus ada
yang pergi terlalu lekas


.mar2011

Gula Semut


1/
Entah berapa banyak
gula berhamburan
semut di bibirmu

Tell me how much
sugar trickles
ants on your lips

2/
tidak ada madu kali ini
ingatan tentangmu berbaris
seperti kawanan semut

no honey today
the memory of you marches
like a company of ant



.Feb2011

no sign

no sign

i wore that red cloth to hide from your sight blood that spotted the road one drop at a time that bubbled a while when it fell to the ground made cute polcadots and it chilled me a bit knowing that I was wounded but at least I still have some to draw a maroon I love you on the walls although it quickly turned grayish jealous and envy so you couldnt read them
this world I walk is the words the blink blink the clicks the keys the doors that oftenly open and bang close and open and close over and over again we can not see the difference at all even when its done normally but hey nothing is normal believe me we are filling this entity with many status with no signature of our own pentacle spell o it’s a virtual life we live in with limited bandwith and they let me die dry blooded as I ran out of sign to announce you are mine



tanpa marka

aku memakai baju merah itu untuk sembunyikan dari pandanganmu darah yang menetes sepanjang jalan tetes demi tetes yang menggelegak sebentar ketika jatuh meninggalkan lingkaran lucu dan menggigilkanku sedikit teringat bahwa aku terluka tapi setidaknya aku masih punya sisa untuk menuliskan aku cinta padamu berwarna marun di dindingdinding meski kemudian berubah warna dengan cepat menjadi abuabu yang cemburu dan iri sehingga kau tak dapat membacanya

dunia yang aku jalani ini adalah katakata adalah blink blink adalah klik adalah kunci adalah pintu yang terbuka dan terbanting menutup dan terbuka dan menutup lagi lagi dan lagi tak bisa dibedakan bahkan ketika dilakukan dengan biasabiasa saja tapi hey tidak ada yang biasabiasa saja percayalah kita mengisi entitas ini dengan banyak status tanpa keabsahan dari mantra pentakel yang kita buat sendiri o betapa ini adalah dunia virtual yang mesti kira jalani dengan jatah unduh terbatas dan mereka biarkan aku mati kehabisan darah setelah kehilangan marka untuk mengumumkan kau milikku



.Jan11

Di Samping Jendela Aku Mendengar Lagu ”It Might Be You”

..time, i’ve been counting rain, watching days go by..

Terkadang aku ingin kita menjadi dua orang yang belum saling kenal—bahkan nama, yang menerka-nerka bagaimana rupamu ketika tersenyum, dan menjadi ingin yang sangat ketika bertatap.

Di sebuah puisi aku pernah membaca ini:
”ah kau! ah aku!”
Yang kupikirkan adalah semu merah dadu pipiku yang disentuhmu. Dulu.

Saat ini, ketika semua rahasia sudah ditukar, dan kejutan adalah kebiasaan, aku membayangkan kita kembali tak saling kenal, dan menginginkan sangat ketika bertatap.

Di dalam lagu itu ada satu pertanyaan.
Kau bisa tebak apa?


.Jan11

*baris pertama mestinya lirik awal lagu itu, tapi diubah sesuka penulis

Silent

Seperti profil silent di handphone
kita tak bersuara
kecuali getar



.dec10

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.