19
Oct
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Usai membeli kumpulan lagu baru, kau dengarkan ia
Dekat-dekat dengan dadamu
Intro
Intro baru saja lewat tapi
ketukan belum tertangkap
di dalam sana, seseorang
sedang mencari kunci yang tepat
Refrain
Sebuah refrain,
ada nada yang datang berulang
Seperti refrain,
ada ingin yang hendak berulang
Outro
Serupa outro yang tertulis
fade-away,
kehilangan pergi perlahan
seseorang mulai menghapal lirik
dari awal
sampul albumnya bisa kau abaikan.
judul pun bukan pengingat
. melodi abadi sendiri
.Okt09
16
Sep
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Kupanggil namamu berulang kali sebagai dzikir
hingga habis nafas hingga lenyap suara sesak dada
mengharap kau menoleh sedikit saja melihatku
melihat wajahku
wajah yang malam berawan
Diri serupa seluruh alam malam qadar
menunduk bersujud bersimpuh meski
kau tak kulihat tak kulihat wajahmu menoleh melihat aku
pada mataku pada suaraku pada tanganku yang menggapai
Kau panggil namaku satu-satu
bulir-bulir tasbih melingkar berputar-putar
lepas berserakan lesap ke dalam tanah
dan kita saling berpandangan
berpegangan tangan
.Jul09
6
Aug
Posted by buluangsa in Uncategorized. 2 Comments
Setiap malam aku rebahkan tubuhku di atas kasur,
juga kepalaku di atas bantal,
bantal yang memiliki banyak sekali peta,
peta yang diam-diam kubuat dengan mata,
tersembunyi di balik sarungnya yang jingga.
Entah ke mana peta itu menunjuk.
mungkin ia ingin aku tahu rahasia arti mimpi-mimpi,
atau dari peta itulah mimpiku berasal.
Suatu malam aku lepas sarungnya yang jingga.
aku masuk ke dalam bantal,
berjalan-jalan menelusuri peta,
yang semakin banyak dan semrawut alurnya.
aku sesat dan sesak
seperti liliput yang mencari jalan di labirin daun menjalar.
Sejak itu aku berharap
mataku tidak lagi pandai menggambar peta.
.Jul09
6
Aug
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Di musim ini daun-daun
memilih jatuh
beramai-ramai
mereka menumpuk
menyelimuti jalanjalan
yang dulu sering kita lalui
bertelanjang kaki
Di tanganku, sapu,
masih kupikirkan
untuk apa ia kugenggam
.Jul09
4
Aug
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Benarkah alamat yang
ia bubuhkan?
.Jun09
4
Aug
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Bibirmu sesabit bulan
sekumpulan bintik-bintik bintang
, sejauh itu tergantang
.Jul09
17
May
Posted by buluangsa in Uncategorized. 3 Comments
”Aku tahu tempat itu terlalu ramai, tapi makanannya lucu-lucu.”
”Tapi bukankah semestinya tak ada yang tahu kita bertemu?”
”Biarkan saja. Anggap mereka hanya iri bahwa kita bisa berdua tanpa malu-malu.”
”Ya, ya.. toh kita bukan selingkuh”.
(oh bukan?)
“Kalau pun ada yang mengira selingkuh, kita nikmati saja”
(hmm..)
.
Sore itu kita bertemu.
“Aku sudah putus dengannya”
”oh ya?”
”Ya. Aku juga tak menyangka dia memutuskan aku”
(owh?)
.
Mendadak pertemuan itu terasa tak sempurna
.
.
.Mei09
15
May
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Kita bertemu pada
takbiratul ihram
malam itu langit
hitam muram
.
Punggung yang lengkung,
telah kita coba ratakan
: ada tarikan yang nyata
di kaki-kaki kita
.
Kau rapatkan keningmu
pada keningku
tapi bibir kita masih terlalu jauh
untuk saling menjangkau
, kurasa hidungku terlalu lekat
hingga tanah tercium
basah
.
Senyap sungguh tuma’ninah
ah, adakah sekali saja
kita saling memanggil
dalam diam?
.
Ini bukan tahiyat
yang kita singgahi
berkali-kali silam
kesaksianmu tergantang
di simpul yang lerai
.
Ada yang tak tertebak
menjelang salam
: apakah kanan dengan kiri
saling mengenal?
.
.
.April09
15
May
Posted by buluangsa in Uncategorized. 2 Comments
Ternyata seperti ini cara
kita menghadapi
musim:
.
hujan di luar berlari di atas
atap rumah.
di dalam, kita
menyembunyikan gerimis,
menghitungnya perlahan-lahan.
.
Ada tangan-tangan
mengulur ke luar jendela,
menampung segala musim,
menumpahkan isinya
ke halaman rumah kita
.
Kita punguti satu persatu
musim yang tumpah itu.
lalu gerimis,yang kita tulis
berlembar-lembar,
menjadi suara yang begitu ingin
kita dengar
.
.
Mar09
15
May
Posted by buluangsa in Uncategorized. Leave a Comment
Sebab pada akhirnya
hanya inlah yang kita miliki
kenangan,
catatan yang kita lupa
menjadikannya puisi,
sajak yang ingin dibaca
berbisik
agar kita ingat lebih
saat ia tanya
“engkau di mana”
Mar09